JEMBER UPDATE NEWS

Balap Gethek Gedebog, Lomba Unik Kenang Massa Lalu

Teks Foto:Gethek Gedebok Saat Di laksanakan Di Aliran Sungai Kali Meneng Kecamatan Kencong, Jember.(tix)


JEMBER UPDATE - Lomba balap dayung yang biasanya menggunakan perahu ataupun kano, oleh masyarakat di Desa/Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dilakukan dengan cara berbeda. Batang pohon pisang yang oleh masyarakat sekitar disebut dengan gedebog, digunakan sebagai pengganti perahu dan digunakan untuk lomba balap dayung tersebut.

Gedebog sepanjang kurang lebih 2,5 meter panjangnya, dirakit menjadi satu menggunakan bambu, sehingga menjadi gethek atau umum disebut rakit. Sehingga memiliki lebar sekitar 1 meter dan cukup untuk dinaiki 2 orang penumpang. Lomba ini tentu menarik, karena ternyata Gethek Gedebog ini, dulunya adalah mainan di zaman kolonial Belanda dan sering dimainkan anak-anak dikala itu di aliran sungai "Kali Meneng" Desa/Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

"Jadi Gethek Gedebog ini, permainan anak-anak zaman dulu, yang kita galakkan lagi, sebagai salah satu ikon dari Kencong Kota Tua," kata Camat Kencong Susmiadi saat dikonfirmasi disela perlombaan, Minggu (1/9/2019).

Para peserta yang mayoritas orang dewasa, kata Susmiadi, turut andil dalam perlombaan tersebut. "Peserta kita batasi, ada sekitar 70 orang saja yang ikut, satu gedebog satu tim terdiri dari 2 orang. Sebenarnya peserta banyak, tapi khawatir waktunya terlalu lama," katanya.

Untuk jarak tempuh balapan unik itu, dari hulu di Jembatan desa sampai Jembatan jalan utama jalur Kencong, Kecamatan Jember - Kabupaten Lumajang.

"Jaraknya kurang lebih 100 meteran. Di garis finish ada jurinya yang menentukan kalah atau menang. Hadiah yang diperebutkan satu ekor kambing dan satu sepeda mini untuk anak-anak dan hadiah hiburan lainnya," ungkapnya.

Selain dikemas sebagai perlombaan dalam merayakan hari kemerdekaan. Kegiatan lomba ini juga sebagai kampanye menjaga kebersihan sungai. "Karena kita tahu masyarakat terkadang tidak peduli akan kebersihan sungai. Padahal sungai ini sumber kehidupan. Jadi lewat lomba ini kita juga kampanye tentang menjaga kebersihan sungai," ungkapnya.

"Apalagi sungai di Kencong ini, posisinya di hilit untuk langsung ke laut lepas di selatan sana," sambungnya.

Pantauan wartawan dilokasi lomba, para
Peserta kesulitan untuk mengendalikan rakit dari batang pohon pisang tersebut. Karena dibutuhkan keseimbangan dan cara mendayung yang berbeda dari biasanya. Bahkan banyak trik dilakukan para peserta untuk sampai di garis finish.

"Tadi teman saya berenang mas, karena sampai di tengah hampir tenggelam. Mungkin karena gedebognya mau rusak. Kan gak awet kalau beberapa kali dinaiki," kata Sanusi salah satu peserta lomba.

Asalkan tidak dilakukan sambil berjalan, juri pun tidak mempermasalahkan trik yang dilakukan peserta. "Karena sungainya juga tidak dalam, kira-kira 1,5 meteran. Jadi peserta kadang ada yang curang. Jadi tidak boleh berjalan dilantai sungai. Tapi kalau berenang diperbolehkan," kata Koordinator Perlombaan Ulum Pitik.

"Tujuannya agar semua gembira, dan merasakan sensasi permainan di masa kecil dulu," tuturnya.(tix/rif).

Tidak ada komentar