JEMBER UPDATE NEWS

Bupati Jember Sambut Kedatangan Ketua Suluh Kebangsaan Mahfud MD


JEMBER UPDATE - Kedatangan Ketua Suluh Kebangsaan Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U., yang melakukan Jelajah Kebangsaan dengan menggunakan kereta api, disambut langsung oleh Bupati Jember dr. Faida MMR di stasiun Jember. Kamis (21/2/2019)

Bupati Faida menyatakan, saat ini rasa kebangsaan kita sedang terganggu. Gangguan itu disebabkan oleh salah satunya, yang berasal dari hoax.

"Begitu banyak orang yang menganggap hoax itu adalah hal biasa. Namun, hal itu justru memecah belah bangsa dan merusak etika berbudaya dan berbangsa,"

Bagi bupati, hoax adalah kata-kata yang tidak bertanggungjawab, yang tidak bisa dibiarkan, tidak boleh dianggap remeh, harus dilawan dan diluruskan.

"Orang harus cerdas membedakan yang mana yang hoax, yang mana yang fakta," tegasnya di Stasiun Jember.

Jelajah kebangsaan, menurut bupati, sangat bermanfaat untuk menjaga rasa kebangsaan dan persatuan negera kita.

Jelajah Kebangsaan sebenarnya tidak ada jadwal ke Jember. Namun, mampirnya tim ini, menurut bupati sangat berarti bagi semua.

Sementara Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U., menyampaikan, poin penting perjalanan Jelajah Kebangsaan akibat rasa risau karena pemilu yang biasanya disebut sebagai pesta justru bagi sebagian orang dirasakan sebagai teror, bukan pesta.

"Karena terdapat orang yang saling membenci dan saling melemparkan issue sehingga menimbulkan keresahan bagi kelangsungan ikatan kebersatuan kita sebagai orang Indonesia," terangnya.

Prof. Mahfud mengatakan, dilakukannya penjelajahan kebangsaan ini untuk memberitahu kepada masyarakat supaya Pemilu ini dimanfaatkan untuk mencari pemimpin dan wakil rakyat yang nantinya akan diterima siapapun yang akan terpilih.

"Hentikan permusuhan-permusuhan itu sampai dengan 17 April sore. Kalau sudah pencoblosan, tunggu saja. Siapapun yang menang kita taati," tuturnya.

Jika terdapat kecurangan ada pengadilannya,  ada MK. Sehingga kita hidup berpemilu ini, berdemokrasi, dengan tertib. Jangan melempar hoax.

"Mari jadikan pemilu sebagai pesta demokrasi. Pesta itu tidak ada yang menakutkan. Pesta itu selalu menyenangkan," ujarnya.

Pesta demokrasi itu memilih calon-calon wakil kita sendiri, partai sendiri, dan pasangan menurut selera.

"Mari kita bersatu. Memilih pemimpin dan wakil rakyat hanya lima tahun, sedangkan ikatan persaudaraan kita untuk selamanya. Selama Indonesia masih ada,  kita masih bersaudara sebagai sesama anak bangsa," pungkasnya. (*)

No comments