JEMBER UPDATE NEWS

BUPATI FAIDA DI UNDANG KHUSUS BERSAMA 25 DELEGASI "WHRCF" 2018 DI KORSEL


JEMBER UPDATE - Dalam acara Forum Dunia Hak Asasi Manusia (WHRCF) 2018,Bupati Jember dr.Hj.Faida MMR menjadi undangan secara khusus bersama 25 delegasi yang berbagai negara yang merupakan ajang tahunan ini sebagai keberhasilan dalam pembangunan di kabupaten Jember.

Forum resmi yang di gelar tersebut,merupakan salah satu gelaran tahunan yang dikemas dengan "The World Human Rights Cities Forum 2018" di Gwangju, Korea Selatan,Kamis (18/10/2018).


Bupati Jember dr.hj.Faida MMR mengatakan jika dilakukan gelaran ini merupakan untuk mewujudkan visi dari berbagai daerah belahan dunia menjadikan kota ramah Hak Asasi Manusia (HAM).

"Dalam ajang WHRCF ini bersama delegasi-delegasi dari yang merupakan dari berbagai negara berupaya keras bagaimana agar pemerintah lokal maupun pusat menjadi pelindung utama hak asasi manusia."ujarnya

Kesempatan tersebut,lanjut Bupati Faida MMR menyampaikan jika tentu saja ini tidak akan disia-siakan olehnya untuk memaparkan berbagai hal terkait apa saja yang telah dilakukan Jember.

"Sekaligus mempromosikan Jember sebagai daerah yang ramah HAM yang di dalamnya banyak keberagaman."imbuhnya.

Bukan hanya itu saja,Dia juga menjelaskan, bahwa dalam kondisi umum kabupaten Jember yang penuh dengan keberagaman yang ada di dalamnya yang mayoritas masyarakatnya hidup dari lini sektor pertanian terutamanya.

"Dengan jumlah penduduk lebih dari 2,6 juta orang yang menyebar di 31 kecamatan dan 248 desa, tentu ini bukan hal yang mudah untuk mengelolanya.karena belum lagi ditambah luas Jember yang mencapai 3.293,34 Km² yang sebagian penduduknya hidup dari sektor pertanian."jelasnya.

Selain itu,Dia menerangkan walau Kendatinya mayoritas masyarakat yang ada di kabupaten Jember berasal dari suku Jawa, Madura, serta berbagai suku-suku lainnya serta dengan agama yang berbeda, namun bisa hidup rukun berdampingan sebagai satu bangsa Indonesia dan hak-haknya sebagai warga negara bisa terpenuhi.

"Bertoleransi beragama sebagai hak warga untuk beribadah benar-benar terasa di Jember. Meski berbeda agama, namun bisa hidup berdampingan. Bahkan, ada gereja dan masjid di Jember yang berdiri jaraknya berdampingan."pungkasnya.(bas/kr/rif).

Tidak ada komentar